PENGARUH FILM DEWASA TERHADAP PERSEPSI MAHASISWA BIMBINGAN DAN KONSELING 2017 TERHADAP LAWAN JENIS

Pengaruh Film Dewasa Terhadap Persepsi Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling 2017

Oleh: Bayu Riyanto

AIE117037

lambang-unja

Jurusan Ilmu Pendidikan – Prodi Bimbingan dan Konseling

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Jambi

Jalan Raya Jambi – Ma. Bulian Mendalo Darat, KM. 15, Mendalo Indah Kode Pos 36361

 

ABSTRACT

 

Highlights the difficulties in this study (1) How Influence of Adult Film on Student Perception Guidance And Counseling 2017 Against the Opposite Type? (2) How does perception arise after watching adult movies to the opposite sex? Perception is a process that involves the entry of messages or information into the human brain, through the perception of human beings continuously make contact with the environment. This relationship is done through the senses, namely the senses pengelihat, listener, touch, taste, and smell (Slameto, 2010: 102). Distorted perception occurs in people who have sub-cultural values ​​that deviate, that is a special culture that norms contrary to culture in general. Activities are increasingly growing in the teenage environment in particular is also included with the Modernization.

This research will be conducted in May 2018 until July 2018 which in that month students still do lecturing activities. This research is a field research supported by lecturers of Jambi University.

Factors that cause students to watch porn film is a sense or desire that conveyed or tersalurkannya lust. Favorite place to watch porn movie is dikamar, while the right time used to watch porn movie is at midnight because at night the situation and the situation is very quiet and calm. In addition, some sources say that the porn movie is very appropriate to be enjoyed during the middle of the rain so that the cold adds a lust that is churning. Perceptions arise when seeing the opposite sex after watching the porn movie has a varied answer. Some sources say they want to practice with the opposite sex because on a human basis, while some other sources say only tempted at that time and did not continue for a long time.

 

Kata Kunci: Persepsi Mahasiswa, Film Dewasa/Porno


BAB 1 PENDAHLUAN

A.Latar Belakang Masalah

      Pornografi merupakan gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi/pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suyatno didapatkan bahwa 96% mahasiswa pernah menonton blue film. Film dewasa dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dimana sikap dan perilaku tersebut dapat terjadi apabila terdapat dorongan dalam diri remaja untuk menyaksikan tayangan dan mengitimasi hal-hal yang terdapat dalam blue film.

      Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium (Slameto, 2010:102). Persepsi menyimpang terjadi pada masyarakat yang memiliki nilai-nilai sub kebudayaan yang menyimpang,yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan budaya pada umumnya. Kegiatan yang semakin banyak berkembang ditengah lingkungan remaja pada khususnya ini juga diikutsertakan dengan adanya Modernisasi. Modernisasi sendiri merupakan pengaruh kehidupan dan gaya hidup orang barat yang masuk tanpa adanya penyaringan terlebih dahulu oleh Masyarakat ketimuran seperti Indonesia.

B. Rumusan Masalah Penelitian

  1. Apa yang dimaksud film dewasa atau film dewasa ?
  2. Apa faktor yang mendukung mahasiswa gemar menonton film dewasa ?
  3. Dimana saja mahasiswa menonton film dewasa ?
  4. Kapan saja waktu-waktu mahasiswa menonton film dewasa ?
  5. Kenapa mahasiswa suka menonton film dewasa ?
  6. Bagaimana Persepsi yang timbul setelah menonton film dewasa kepada lawan jenis ?

C. Tujuan Penelitian

      Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Film Dewasa Terhadap Persepsi Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling 2017 Terhadap Lawan Jenis; dan (2) Untuk mengetahui factor-faktor yang mendorong mahasiswa menonton fim dewasa.

D. Ruang lingkup Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dilapangan dan perpustakaan dengan batasan yang diambil sebgai berikut :

  1. Lapangan yaitu di Universitas Jambi Kampus Telanai dimana terdapat mahasiswa yang menongkrong di kantin.
  2. Tempat tinggal mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang terdapat disekitar Kecamatan Telanaipura.
  3. Mahasiswa yang akan diteliti adalah mahasiswa laiki-laki yang biasanya gemar menonton film dewasa.
  4. Penelitian akan dilakukan secara bertahap dan secara diam-diam agar target tidak mengetahui jika seang dilakukan observasi.

E. Hipotesis

       Hipotesis penelitian ini adalah : “Presepsi mahasiswa setelah menonton film dewasa terhadap lawan jenis dapat berupa presepsi yang buruk atau selalu berfikiran negative terhadap lawan jenis yang dilihatnya.

BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

  1. Konsep Film Dewasa

     Film dewasa dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dimana sikap dan perilaku tersebut dapat terjadi apabila terdapat dorongan dalam diri remaja untuk menyaksikan tayangan dan mengitimasi hal-hal yang terdapat dalam blue film. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suyatno didapatkan bahwa 96% mahasiswa pernah menonton blue film.

Pornografi merupakan gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi/pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Sebenarnya film merupakan hiburan yang murah dan praktis. Akan tetapi dengan semakin banyaknya blue film, seperti kecenderungan remaja/siswa menonton blue film akan mengakibatkan siswa sulit berkonsentrasi dalam belajar, sehingga hasil belajarnya rendah .

  1. Konsep Persepsi

   Dalam memandang suatu permasalahan setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Persepsi seseorang berkaitan dengan pengalaman, kemampuan maupun daya persepsi yang diterimanya. Persepsi merupakan bagian dari konsep diri manusia. Persepsi tidak akan lepas dari peristiwa, objek dan lingkungan sekitarnya. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Persepsi seringkali dinamakan dengan pendapat, sikap dan penilaian. Persepsi diartikan sebagai “suatu proses yang didahului oleh penginderaan” yaitu merupakan proses yang berujung ke pusat susunan syaraf yaitu otak hingga individu tersebut mengalami persepsi (Bimo Walgito, 1997: 53). Persepsi merupakan proses yang digunakan oleh seseorang individu untuk memilih, mengorganisasi dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi adalah proses internal yang dilakukan untuk memilih, mengevaluasi, dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan ekstern (Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, 1998: 25).

  1. Konsep Mahasiswa

    Menurut UU RI No.20 tahun 2003 tentang sisdiknas Bab VI bagian keempat pasal 19 bahwasanya mahasiswa itu sebenarnya hanya sebutan akademis untuk siswa atau murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Sedangkan secara harfiah, Mahasiswa terdiri dari dua kata yaitu maha yang berarti tinggi dan siswa yang berarti subyek pembelajar ,  jadi dari segi bahasa mahasiswa diartikan sebagai pelajar yang tinggi atau seseorang yang belajar diperguruan tinggi/universitas. Namun jika kita memaknai mahasiswa sebagai subyek pembelajar saja, amatlah sempit pemikiran kita, sebab meski mahasiswa diikat oleh suatu definisi study, akan tetapi mengalami perluasan makna mengenai eksistensi dan peran yang dimainkan dirinya.

B. Tinjauan Pustaka

      Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh menonton film dewasa oleh beberapa peniliti dan mahasiswa yang ada di Indonesia maupun dunia. Misalnya Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa secara biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas makhluk hidup, sehingga yang dimaksud dengan perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas dari manusia yang mempunyai artian sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya.

      Sehingga yang dimaksud dengan perilaku manusia adalah semua kegitan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati pihak luar. Perilaku seksual merupakan perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku yang merupakan hasil interaksi antara kepribadian dengan lingkungan disekitarnya. Perilaku seksual sangat luas sifatnya, mulai dari berdandan, mejeng, merayu, menggoda hingga aktifitas dan hubungan seksual (PKBI, 2007).

      Poltekkes (2010) menjelaskan bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Seringkali perilaku seksual ditanggapi sebagai hal yang berkonotasi negatif, padahal perilaku seksual ini sangat luas sifatnya, sedangkan menurut Kusmiran (2012) perilaku seksual merupakan perilaku yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis dengan bentuk tingkah laku yang beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama.

BAB III PEMBAHASAN

    Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada sample. Pertanyaannya adalah sebagai berikut:

  1. Apa faktor yang mendukung anda untuk menonton film porno ?
  2. Dimana dan kapan saja waktu-waktu yang tepat untuk digunakan menonton film porno?
  3. Setelah menonton film porno, persepsi apa yang timbul jika melihat lawan jenis ?

      Dari pertanyaan diatas telah didapat hasil dari proses wawancara dengan beberapa sumber telah diperoleh jawaban bahwa faktor yang menyebabkan mahasiswa menonton film porno adalah rasa atau keinginan yang tersampaikan atau tersalurkannya nafsu. Tempat favorit untuk menonton film porno yaitu dikamar, sedangkan waktu yang tepat digunakan untuk menonton film porno adalah pada saat tengah malam karena pada waktu malam keadaan dan situasi sangatlah hening dan tenang. Selain itu, beberapa sumber mengatakan bahwa film porno sangat tepat dinikmati pada saat tengah diguyur hujan sehingga hawa dingin menambah nafsu yang sedang bergejolak. Persepsi yang ditimbulkan jika melihat lawan jenis setelah menonton film porno tersebut mempunyai jawaban yang bervariasi. Sejumlah sumber mengatakan ingin mempraktekkannya dengan lawan jenis karena atas dasar manusiawi, sedangkan beberapa sumber lainnya mengatakan hanya tergoda saat itu saja dan tidak berlanjut untuk waktu yang lama.

      Mahasiswa yang menonton film porno ini kebanyakan adalah mahasiswa yang tidak memiliki pasangan atau pacar dan tidak bisa menyalurkan nafsunya secara benar. Jadi, disini pun kita tidak dapat menyimpulkan orang mempunyai pacar bukan berarti tidak menonton film porno dan nafsunya tersalurkan dengan baik. Sebelum kita melakukan penelitian yang nyata dan pasti kita tidak boleh sembarangan menarik kesimpula karena orang bijak dalam pendidikannya tidak akan memainkan proses pendidikan dirinya sendiri.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

      Dari penelitian yang telah saya laukan tentang Pengaruh Film Dewasa Terhadap Persepsi Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling 2017 Terhadap Lawan Jenis  di atas, dapat disimpulkan bahwa Persepsi yang ditimbulkan jika melihat lawan jenis setelah menonton film porno tersebut mempunyai jawaban yang bervariasi. Sejumlah sumber mengatakan ingin mempraktekkannya dengan lawan jenis karena atas dasar manusiawi, sedangkan beberapa sumber lainnya mengatakan hanya tergoda saat itu saja dan tidak berlanjut untuk waktu yang lama. Sehungga Hipotesis yang saya lakukan telah dapat diterima karena persepsi mahasiswa setelah menonton film porno termasuk persepsi yang negative.

 B. Saran

Berdasarkan uraian diatas, Penulis menyarankan agar semua pihak senantiasa menyadari betapa bahayanya film porno. Mahasiswa diharapkan untuk sadar dan tidak lagi meremehkan masalah umum yang dimiliki kebanyakan mahasiswa ini. Mulailah mengamalkan Ilmu agama masing-masing dan belajar mengendalikan nafsu agar kita sebagai generasi muda dapat meneruskan perjuangan bangsa ini sehingga Bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang berkarakter dan menjungjung persatuan. Selain itu penulis juga mengharapkan kritik serta saran pembaca terhadap laporan ini demi kelancaran penulisan penelitian berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Slameto,  2010:102

Bimo Walgito, 1997: 53

Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, 1998: 25

UU RI No.20 tahun 2003 tentang sisdiknas Bab VI bagian keempat pasal 19

PKBI, 2007

Poltekkes (2010)

Kusmiran, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s